Pembajakan software telah mengancam keberlangsungan perusahan pengembang peranti lunak di Indonesia. Dari sekian banyak industri software Indonesia, Bussines Software Alliance (BSA) memperkirakan hanya sekitar 15 perusahaan yang komitmen terhadap pengembangan software. "Bisa saja yang bertahan hanya sepuluh," kata Direktur Pemasaran BSA Asia Roland Chan di Denpasar, Kamis (27/11).
Pembajakan software komputer di Indonesia berlangsung cukup memprihatinkan. Menurut Roland, sebanyak 84 dari 100 komputer yang ada diperkirakan menggunakan software bajakan. Hal ini tidak terlepas dari rendahnya kesadaran masyarakat menggunakan software asli dan kian canggihnya teknologi informasi. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam urutan ke 12 dari 20 negara dengan pembajakan software tertinggi di dunia.Dia mengatakan ada beberapa modus pembajakan software yang lazim digunakan di Indonesia. Yakni menggunakannya di komputer pribadi atau lembaga, di persewaan komputer, di warung internet, dan memasangkan di komputer yang dijual di toko-toko. "Pembajakan adalah tiap bentuk pemakaian tanpa ijin," kata dia.
Perwakilan BSA Indonesia Donny A. Sheyoputra mengatakan pembajakan telah mengakibatkan banyak kerugian negara, terutama dari sektor penerimaan pajak dan penyerapan tenaga kerja. Jika dalam 4 tahun mendatang Indonesia bisa menurunkan tingkat pembajakan hingga 10 persen, maka diperkirakan akan mampu menyeraap tenaga kerja sebanyak 2.200 orang dengan keahlian tinggi. "Ini belum tenaga kerja dengan keahlian yang lebih rendah," ujar dia.
Namun demikian, kata dia, trend pembajakan di Indonesia mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 sebesar 88 persen menjadi 87 persen pada 2004. Berlanjut sebesar 87 persen pada 2005, 85 persen pada 2006, dan turun menjadi 84 pada 2007. Meski telah turun menjadi 87 persen pada tahun 2007, namun kerugianyang dialami masih tinggi, yakni sebesar 411 US Dolar atau sekitar Rp 3,8 trilliun.
Sejak berdiri tahun 1988, BSA telah banyak memiliki anggota di 80 negara di Dunia. Di Indonesia, hanya ada tiga perusahaan software yang bergabung, yakni Andal Software Sejahtera, Zahir Internasional, (kedua berada di Jakarta) serta Bamboomedia Cipta Persada di Bali. "Kami baru bergabung pada 1 Juli lalu," kata Putu Sudiarta, Direktur Bamboomedia.
Dia mengatakan sedikitnya sepertiga dari 150 produk software Bamboomedia telah mengalami pembajakan. Pembajakan ini berlangsung dengan cepat, mengingat Bamboomedia baru berdiri pada lima tahun lalu. Selain produsen, lanjutnya, pembajakan juga telah merugikan distributor dan retail. "Yang dibajak biasanya yang best seller," kata dia.
0 komentar:
Poskan Komentar